Membangun Masa Depan
Admin, 5
Oktober 2011
KUDUS - Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat
menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.
Kita sepakat bahwa orang yang paling rugi di dunia ini
adalah orang yang diberikan modal, tapi ia hamburkan modal
itu sia-sia. Modal kita dalam hidup adalah waktu.
Sering kita tidak menyadari
betapa berharganya jatah waktu yang kita miliki. Kita sering
menghabiskan waktu produktif hanya untuk mencari sesuatu
yang tidak berarti.
Kita sering membuang kesempatan yang kata orang tidak akan
datang untuk ke dua kalinya. Kita sering menghabiskan waktu
berjam-jam hanya untuk mengumbar ketidaksukaan kita, untuk
memendam kedengkian atau kemarahan kita. Padahal, waktu
berlanjut terus dan kita tidak tahu kapan hidup ini berakhir.
Oleh karena itu, Maha Suci
Allah yang mengungkapkan dalam kitab-Nya bahwa kerugian
manusia itu dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau
ia sudah berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong
orang yang sudah menyia-nyiakan kehidupannya.
Secara umum waktu terbagi
tiga. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat. Kita sudah tidak
berdaya dengan masa lalu. Tapi banyak orang sengsara hari
ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita
harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari
kita. Kedua, masa depan. Kita pun sering panik menghadapi
masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit
didapat, takut tidak mendapat jodoh, dan lainnya. Masa lalu
dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu
yang ketiga. Seburuk apapun kita di masa lalu, kalau hari
ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, dengan
kuasa Allah semua keburukan itu akan terhapuskan.
Sayangnya, kita banyak merusak
hari ini dengan masa lalu. Dulu gelap sekarang putus asa,
sehingga kita tidak mendapat apapun. Dulu berlumur utang,
sekarang tidak bangkit, tentu utang tidak akan terlunasi.
Masa lalu kita bisa berubah drastis dengan masa kini. Begitu
pun dengan masa datang. Sungguh heran melihat orang yang
punya cita-cita tapi tidak melakukan apapun pada hari ini.
Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa
depan adalah waktu untuk memanen. Maka mana mungkin kita
bisa memanen bila kita malas menanam benih. Karena itu,
siapa pun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa
yang dilakukannya sekarang.
|
selanjutnya |
|
 |
|