Membangun Masa Depan
(lanjutan)
Maka sehebat apapun cita-cita
di masa depan, taruhannya adalah masa kini. Pada saat
sekarang kita duduk santai, tidak mau bekerja, dan pada saat
yang sama orang lain bekerja keras, menempa diri, menimba
ilmu, mengasah diri, dan memperkuat ibadahnya. Maka, suatu
saat nanti akan bertemu rezeki yang harus diperebutkan oleh
banyak orang. Yang satu dengan ilmu. Yang satu dengan
pengalaman. Yang satu dengan wawasan. Dan yang satu lagi
dengan kebodohan. Siapakah yang akan mendapatkan rezeki
tersebut?
Saudaraku, kita harus mulai
menghitung apapun yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang
adalah bekal kita. Kita bisa terpuruk besok lusa hanya
dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan
dengan kata-kata. Uang yang kita dapatkan sekarang adalah
tabungan masa depan. Bila kita dapatkan dengan cara tidak
halal, niscaya aibnya tidak akan tertukar.
Karena itu, terlalu bodoh
andai kita mau melakukan sesuatu yang sia-sia. Detik demi
detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit
yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita
terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bekerja, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran, dalam menjaga
hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan
selalu siap. Tapi kalau kita biarkan bicara sepuasnya,
bekerja semaunya, berpikir sebebasnya, tak usah heran bila saat kematian kita
menjadi saat yang paling menakutkan.
Ada tiga hal yang dapat kita
lakukan agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah
hari-hari yang kita jalani menjadi sarana penambah keyakinan
pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup
kecuali dengan keyakinan yang kuat pada Allah. Pupuk dari
keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut
ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak
bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.
Kedua, tiada hari berlalu
kecuali jadi amal dan kerja. Di mana pun kita berada lakukankanlah
yang terbaik. Segala yang kita kerjakan harus menjadi amal. Dilihat
atau tidak, kita jalan terus. Karena rezeki kita adalah
apa-apa yang bisa kita lakukan.
Ketiga, orang yang beruntung
adalah orang yang setiap hari terus melatih diri untuk
menjadi pemberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran, dan
yang setiap harinya melatih diri untuk menerima nasihat
dalam kebenaran dan kesabaran. Ia mampu memberi nasihat,
karena ia senang diberi nasihat. Orang yang gagal memberi
nasihat, awalnya karena ia gagal menerima nasihat dalam
kebenaran dan kesabaran.
 |
|
kembali |
|