|
|
 |
Memberdayakan IKM Kudus
(lanjutan)
Jika dirinci
berdasarkan skala unit usaha, di tahun 2008 diperoleh angka
sebagai berikut
: unit usaha mikro dan kecil sejumlah 10.252 unit dengan
penyerapan tenaga kerja sebanyak 114.537 orang, dalam arti
kata lain usaha mikro dan kecil mempu menyerap 54,67% dari
jumlah tenaga kerja yang ada. Dibanding data tahun 2004,
serapan tenaga kerja unit ini meningkat 12,22% (tahun 2004
terserap 41,45%), sebaliknya serapan tenaga kerja di unit
usaha besar dan sedang mengalami penurunan.
Dari
data tersebut, untuk kesekian kalinya telah membuktikan
bahwa sektor IKM/UMKM memiliki kemampuan daya ungkit tinggi
terhadap pembangunan ekonomi dan kesempatan kerja kepada
masyarakat. Berkurangnya ketergantungan masyarakat Kudus
pada usaha besar, terutama rokok, dan menguatnya peran
IKM/UMKM ini merupakan gejala yang sangat dinanti-nantikan.
Jika usaha besar yang berkembang, maka hal tersebut hanya
akan mengarahkan masyarakat Kudus lebih besar menjadi
"buruh", dan jika IKM/UMKM lebih banyak tumbuh, maka hal
tersebut dapat mendorong masyarakat Kudus menjadi besar
sebagai "entrepreneur" (wira usahawan) dan hal tersebut
diyakini akan lebih menjamin pemerataan PDRB. Laku "jigang"
masyarakat Kudus harus segera direvitalisasi, agar tidak
menjadi slogan lama yang usang. Kudus sebagai "Kota Jenang",
Kudus sebagai "Kota Soto", Kudus sebagai "Kota Bordir",
Kudus sebagai "Kota Batik", Kudus sebagai "Kota Gebyok",
Kudus sebagai “Kota Kerajinan Logam” harus segera bisa
sejajar dengan Kudus sebagai "Kota Keretek".
IKM/UMKM
dengan karakteristiknya yang fleksibel dan penerapan
perpaduan program antara padat modal dan padat karya mampu
memanfaatkan sumber daya yang ada (lokal), sehingga mampu
bertahan terhadap krisis ekonomi dan perubahan-perubahan
yang terjadi sebagai konsekuensi globalisasi. IKM/UMKM di
Kabupaten Kudus memiliki peranan penting dan strategis,
khususnya ditinjau dari jumlah unit usahanya yang sampai
dengan tahun 2008 mencapai 10.542 unit dengan daya serap
setidak-tidaknya sejumlah 50% dari tenaga kerja yang ada.
Meskipun jumlahnya dominan dan cukup besar, namun
peningkatan peranan terhadap perekonomian daerah relatif
masih dinilai lambat. Oleh karena itu sektor ini harus
dimotivasi dan difasilitasi untuk mampu mengoptimalkan
sumber daya yang ada, agar memiliki nilai tambah dan berdaya
saing tinggi, sehingga dapat berperan dalam pertumbuhan
ekonomi ke depan.
 |
|
kembali |
|
|