JENANG KUDUS INFO MEDIA

"Jenang Kudus" kini tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pilar yang memperkuat bangunan ekonomi masyarakat Kudus. Dengan dukungan instansi terkait dan seluruh stickholder, berbagai upaya untuk mewujudkan Jenang Kudus go International terus menerus dilakukan ...

Beranda

Membangun Masa Depan

Cara Peroleh Modal untuk Bisnis

Memberdayakan IKM Kudus

Teladan Seorang Sahabat Nabi

Jenang Kudus

Dodol Tape

Mubarok dan Kenia Ramaikan Pasar Ekspor

Jenang Kenia Buka di Tanggulangin

Jenang Kenia Juara Kemasan

Kenia Raih Juara III IKM Award

Pemasaran Oleh-oleh Rambah ke Luar Pulau

Laku Hingga Luar Jawa

Kualitas Kemasan Dongkrak Penjualan Oleh-oleh

Selalu Mencoba Hal Baru

Penjualan Oleh-oleh Naik 100 Persen

Omzet Oleh-oleh Diprediksi Naik

Aspo Kembangkan Sistem Kerja Sama

Tradisional Yang Menjual

Mengecap Legitnya Dodol Buah

Kunci Sukses Berbisnis

Musik Buat Hidup Jadi Nikmat

Pemkab Kudus

FEDEP Kudus

Website Jenang Kudus

Teladan Seorang Sahabat Nabi

(Abdurrahman bin Auf)

 

(lanjutan)

yang diinfaqkan Abdurrahman bin Auf.

Ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah yang sedang musim panas, Abdurrahman bin Auf memeloporinya dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas, sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW, “Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya”. Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu?”, “Ya..” Jawab Abdurrahman, “Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan”. “Berapa?” tanya Rasulullah. “Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.” jawabnya. Subhanallah…!!

Suatu saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum muslimin untuk berinfaq di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf menyumbang separuh hartanya senilai 2.000 dinar. Atas infaq ini beliau didoakan khusus oleh Rasulullah SAW, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan. Dan semoga Allah memberkati juga harta yang kamu tinggalkan untuk keluarga kamu”.

Abdurrahman bin Auf memang telah memperoleh berkah dari rizqi yang diperolehnya. Tidak seperti Abdurrahman bin Auf, banyak orang di akhir zaman ini, justru seringkali salah dalam mengartikan kata “berkah”. Mereka menganggap berkah, jika rizqi yang mereka peroleh semakin lama semakin melimpah. Seringkali rizqi yang mereka peroleh itu lalu diwujudkan dalam bentuk kemewahan (bukan kemuliaan) duniawi dan investasi (benda) yang idle (tidak bergerak dan bermanfaat untuk diri dan orang banyak). Berkali-kali pergi haji, padahal di sekelilingnya masih banyak tetangganya yang kesulitan mencukupi kebutuhan hidup dan terlilit hutang. Mereka enggan berinfaq, mereka hanya keluarkan dari hartanya senilai nishaf zakat saja. Kadang nishaf zakatnya pun dimanipulasi. Ironinya orang-orang seperti ini sering tampil di depan publik berdampingan dengan para kyai atau ustadz…!!

Laku "Jigang" (Ngaji dan Dagang) Masyarakat Kudus kini juga telah banyak yang turut bergeser. Sebaiknya hal itu dihindari dan jika terlanjur segera dikembalikan sesuai "tujuan awal laku Jigang", yaitu mencapai kemulian (bukan kemewahan) duniawi dan ukhrawi. Hal itu bisa diraih jika "proses" dan "hasil" usaha yang dilakukan, "senantiasa didasari niat untuk kemanfaatan orang banyak". Ekonomi masyarakat Kudus pun akan bisa berdaya dan merata...

 

kembali
 

Please contact our Webmaster for questions or comments

© Copyright 2010 "Aspoo". All rights reserved.