Teladan Seorang Sahabat Nabi
(Abdurrahman
bin Auf)
(lanjutan)
yang
diinfaqkan Abdurrahman bin Auf.
Ketika
Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang
mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi
Madinah yang sedang musim panas, Abdurrahman bin Auf
memeloporinya dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas,
sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah
SAW, “Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya
karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk
keluarganya”. Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada
Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja
untuk istrimu?”, “Ya..” Jawab Abdurrahman, “Mereka saya
tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya
sumbangkan”. “Berapa?” tanya Rasulullah. “Sebanyak rizki,
kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.” jawabnya.
Subhanallah…!!
Suatu
saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum
muslimin untuk berinfaq di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf
menyumbang separuh hartanya senilai 2.000 dinar. Atas infaq
ini beliau didoakan khusus oleh Rasulullah SAW, “Semoga
Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang
kamu berikan. Dan semoga Allah memberkati juga harta yang
kamu tinggalkan untuk keluarga kamu”.
Abdurrahman bin Auf memang telah
memperoleh berkah dari rizqi yang diperolehnya. Tidak
seperti Abdurrahman bin Auf, banyak orang di akhir zaman
ini, justru seringkali salah dalam mengartikan kata
“berkah”. Mereka menganggap berkah, jika rizqi yang mereka peroleh
semakin lama semakin melimpah. Seringkali rizqi yang mereka
peroleh itu lalu diwujudkan dalam bentuk kemewahan (bukan kemuliaan)
duniawi dan investasi (benda) yang idle (tidak bergerak dan
bermanfaat untuk diri dan orang banyak). Berkali-kali pergi
haji, padahal di sekelilingnya masih banyak tetangganya yang
kesulitan mencukupi kebutuhan hidup dan terlilit hutang.
Mereka enggan berinfaq, mereka hanya keluarkan dari hartanya
senilai nishaf zakat saja. Kadang nishaf zakatnya pun
dimanipulasi. Ironinya orang-orang seperti ini sering tampil
di depan publik berdampingan dengan para kyai atau
ustadz…!!
Laku "Jigang"
(Ngaji dan Dagang) Masyarakat Kudus kini juga telah banyak
yang turut bergeser. Sebaiknya hal itu dihindari dan jika
terlanjur segera dikembalikan sesuai "tujuan awal laku
Jigang", yaitu mencapai kemulian (bukan kemewahan) duniawi
dan ukhrawi. Hal itu bisa diraih jika "proses" dan "hasil"
usaha yang dilakukan, "senantiasa didasari niat untuk
kemanfaatan orang banyak". Ekonomi masyarakat Kudus pun akan
bisa berdaya dan merata...
|
 |
|
kembali |
|