|
Omzet Oleh-oleh Diprediksi
Naik
o
Hingga
30 Persen
Suara
Merdeka (Suara Muria), 7 Juni 2011
KUDUS –
Memasuki liburan sekolah, omzet usaha pembuatan makanan
oleh-oleh diperkirakan akan naik. Peningkatan tersebut
diprediksi dapat mencapai 30 persen dari kondisi normal.
Anggota
Asosiasi Pengusaha Oleh-oleh (ASPOO) Jawa Tengah Muhammad
Ma’ruf mengemukakan hal ini Kamis (16/6). Dikemukakannya,
situasi seperti itu dimungkinkan karena kunjungan wisatawan
domistik akan meningkat. “Khususnya untuk Kudus, pada saat
liburan akan banyak dukunjungi warga dari luar daerah,”
katanya.
Lebih
lanjut dia mengungkapkan, beberapa makanan yang diburu dari
Kota Kretek, yaitu jenang, dodol, atau makanan khas lainnya.
Kecenderungan tersebut dimungkinkan akan berlangsung
menjelang lebaran mendatang.
“Mungkin
omzetnya dapat lebih tinggi dari perkiraan semula,” ucap
dia.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, setelah berwisata ke
sejumlah obyek wisata di Kudus, wisatawan akan mendatangi
beberapa toko yang menjual makanan seperti itu.
Ma’ruf
yang juga memproduksi dodol dan kacang “presto” mengaku juga
mengantisipasinya dengan menyiapkan stok tambahan.
“Yang
jelas, produksinya akan tetap ditingkatkan hingga 20 persen
dan bahkan 30 persen,” ujarnya tanpa memerinci jumlahnya.
Gula Kelapa
Naik
Persoalannya, bersamaan dengan prediksi kenaikan omzet
produk makanan oleh-oleh, pihaknya juga dirisaukan dengan
peningkatan harga gula kelapa. Pada beberapa makanan khas
Kudus seperti jenang dan dodol, penggunaan bahan tersebut
cukup penting.
Untuk
produk makanan tersebut komposisi gula kelapa dapat mencapai
40 persen, disusul kemudian tepung dan gula pasir. Hanya,
untuk bahan baku lainnya kenaikannya tidak sebanyak gula
kelapa.
“Karena
gula kelapa akan memberi rasa manis dan guruh,” ungkapnya.
Beberapa
waktu lalu harganya Rp. 6.000 per kilogram, namun saat
sekarang sudah di atas Rp. 8.000. Sebenarnya pihaknya dapat
saja menggunakan gula olahan dari tebu yang harganya Rp.
6.400 per kilogram. “Hanya kami khawatis rasanya akan
berubah,” tandasnya (HS-57) |