JENANG KUDUS INFO MEDIA

"Jenang Kudus" kini tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pilar yang memperkuat bangunan ekonomi masyarakat Kudus. Dengan dukungan instansi terkait dan seluruh stickholder, berbagai upaya untuk mewujudkan Jenang Kudus go International terus menerus dilakukan ...

Beranda

Membangun Masa Depan

Cara Peroleh Modal untuk Bisnis

Memberdayakan IKM Kudus

Teladan Seorang Sahabat Nabi

Jenang Kudus

Dodol Tape

Mubarok dan Kenia Ramaikan Pasar Ekspor

Jenang Kenia Buka di Tanggulangin

Jenang Kenia Juara Kemasan

Kenia Raih Juara III IKM Award

Pemasaran Oleh-oleh Rambah ke Luar Pulau

Laku Hingga Luar Jawa

Kualitas Kemasan Dongkrak Penjualan Oleh-oleh

Selalu Mencoba Hal Baru

Penjualan Oleh-oleh Naik 100 Persen

Omzet Oleh-oleh Diprediksi Naik

Aspo Kembangkan Sistem Kerja Sama

Tradisional Yang Menjual

Mengecap Legitnya Dodol Buah

Kunci Sukses Berbisnis

Musik Buat Hidup Jadi Nikmat

Pemkab Kudus

FEDEP Kudus

Website Jenang Kudus

Sri Umiyati

Mengecap Legitnya Dodol Buah

Cempaka, Edisi 20-XIX-16-22 Agustus 2008

Ide atau inspirasi berusaha datangnya bisa darimana saja. Salah satunya adalah tayangan televisi yang ternyata lebih dari sekadar hiburan. Hal itu pula yang diakui Sri Umiyati, pengusaha dodol dari Kudus. Terinspirasi atas tayangan sebuah stasiun televisi yang menyajikan liputan bisnis, wanita yang tahun ini berusia 38 tahun itu mengaku ingin memiliki usaha sendiri. Alasannya tak muluk-muluk, ingin membantu mencari tambahan pendapatan keluarga.

Usaha yang kini mulai berkembang itu sesunggunhnya ia besarkan dengan modal yang tak seberapa. Kalaupun bisa disebut modal yang menjadi andalannya bukan uang atau financial tapi modal yang sifatnya non-material yakni semangat, ketekunan dan kesungguhan.

Berawal dari kesulitan yang mebelit keluarganya, kala itu juni 1996 Sri Umiyati yang didukung sepenuhnya oleh suaminya M. Ma’ruf (44) merintis usaha pembuatan dodol, niat ini terhitung nekat. Sebab, wanita berambut ikal itu justru merintis usaha baru di saat krisis, di mana banyak usaha yang mulai gulung tikar.

Dengan membngkar tabungan yang tidak seberapa, sekitar Rp. 100 ribu, Umi, panggilan akrabnya, membeli buah-buahan dan bahan lain untuk membuat dodol. Namanya baru merintis, maka cara dan alat kerja yang dia gunkaan pun sangat sederhana. Memakai alat dapur yang sebelumnya sudah dia miliki. Salah satu alat yang menjadi andalannya yakni blender yang dia apakai untuk menghaluskan buah-buahan yang selanjutnya dia olah menjadi dodol. “Semuanya masih sangat seederhana. Buah-buahan seperti nanas, nangka, dan juga durian di blender lalu dicampur dengan tepung dan gula untuk diolah menjadi bubur dodol. Saya memakai blender satu-satunya yang ada di rumah sampai rusak,” ujarnya kepada Cempaka yang siang itu melihat langsung proses pembuatan dodol di pabriknya yang berdekatan dengan tempat tinggalnya di kawasan Kudus.

Plastik Transparan

Dodol hasil uji coba kemudian ia kemas dalam plastik mika transparan. Ia coba menyusuri gang-gang dan menitipkan produk olahannya ke toko-toko dan warung-warung terdekat. Sebagian ia titipkan ke toko-toko milik temannya di komplek Menara Kudus.

 

selanjutnya

 
 

Please contact our Webmaster for questions or comments

© Copyright 2010 "Aspoo". All rights reserved.