|
Sri Umiyati
Mengecap Legitnya Dodol Buah
Cempaka, Edisi
20-XIX-16-22 Agustus 2008
Ide atau
inspirasi berusaha datangnya bisa darimana saja. Salah
satunya adalah tayangan televisi yang ternyata lebih dari
sekadar hiburan. Hal itu pula yang diakui Sri Umiyati,
pengusaha dodol dari Kudus. Terinspirasi atas tayangan
sebuah stasiun televisi yang menyajikan liputan bisnis,
wanita yang tahun ini berusia 38 tahun itu mengaku ingin
memiliki usaha sendiri. Alasannya tak muluk-muluk, ingin
membantu mencari tambahan pendapatan keluarga.
Usaha
yang kini mulai berkembang itu sesunggunhnya ia besarkan
dengan modal yang tak seberapa. Kalaupun bisa disebut modal
yang menjadi andalannya bukan uang atau financial tapi modal
yang sifatnya non-material yakni semangat, ketekunan dan
kesungguhan.
Berawal
dari kesulitan yang mebelit keluarganya, kala itu juni 1996
Sri Umiyati yang didukung sepenuhnya oleh suaminya M. Ma’ruf
(44) merintis usaha pembuatan dodol, niat ini terhitung
nekat. Sebab, wanita berambut ikal itu justru merintis usaha
baru di saat krisis, di mana banyak usaha yang mulai gulung
tikar.
Dengan
membngkar tabungan yang tidak seberapa, sekitar Rp. 100
ribu, Umi, panggilan akrabnya, membeli buah-buahan dan bahan
lain untuk membuat dodol. Namanya baru merintis, maka cara
dan alat kerja yang dia gunkaan pun sangat sederhana.
Memakai alat dapur yang sebelumnya sudah dia miliki. Salah
satu alat yang menjadi andalannya yakni blender yang dia
apakai untuk menghaluskan buah-buahan yang selanjutnya dia
olah menjadi dodol. “Semuanya masih sangat seederhana.
Buah-buahan seperti nanas, nangka, dan juga durian di
blender lalu dicampur dengan tepung dan gula untuk diolah
menjadi bubur dodol. Saya memakai blender satu-satunya yang
ada di rumah sampai rusak,” ujarnya kepada Cempaka yang
siang itu melihat langsung proses pembuatan dodol di
pabriknya yang berdekatan dengan tempat tinggalnya di
kawasan Kudus.
Plastik
Transparan
Dodol hasil
uji coba kemudian ia kemas dalam plastik mika transparan. Ia
coba menyusuri gang-gang dan menitipkan produk olahannya ke
toko-toko dan warung-warung terdekat. Sebagian ia titipkan
ke toko-toko milik temannya di komplek Menara Kudus.
|
selanjutnya |
|
 |
|