|
Kreatif,
Inovatif dan Optimis
Kunci Sukses Berbisnis
(lanjutan)
maka saya
ganti dengan perisa buah-buahan. Tapi tapenya masih tetap
asli dan merek dodol tape saya masih sama buatannya semakin
banyak diminati masyarakat Kudus. Namun lagi-lagi Ma’ruf
mendapat tantangan dodol yang dimilikinya banyak yang ditiru
dan menyerang pasaran dodol tape Muria Jaya. Sehingga
pasarannya diubah dengan memasarkannya ke luar Kudus.
Hasilnya sangat bagus, respon pasar menerima produk dodol
buatan Ma’ruf dan banyak orang yang berminat. “Pasar produk
saya di luar Kudus semakin besar, sampai sekarang banyak
permintaan,” kata suami Sri Umiyati ini.
Setelah dirasa
dodol tapenya berkembang pesat dan maju, ia mencoba
memberanikan diri untuk memproduksi jenang. Tepatnya pada
2007 jenang buatannya mulai diproduksi. Untuk itu Ma’ruf
mulai mengatur strategi pasar agar jenangnya laku di
pasaran, setelah dodol tapenya sukses. “Kalau jenang ini
memang saya pikirkan matang-matang karena sebenarnya fill
saya ke jenang dan itu cita-cita sejak dulu,” ungkapnya.
Dalam
perjalanannya, usaha jenang yang dia tekuni banyak
menghadapi kendala. Karena persaingannya sangat ketat, antar
sesama produsen jenang Kudus. Ma’ruf berpikir yang penting
jenang miliknya dikenal terlebih dahulu oleh masyaraakat
ketimbang target pemasarannya.
“Awalnya yang
saya pikirkan bagimana caranya jenang saya bisa dikenal
orang banyak. Masalah jumlah yang terjual atau marketnya
saya pikirkan yang kedua. Kalau jenang sudah dikenal orang,
otomatis pasaran bisa berjalan dengan sendirinya,” tandas
Ma’ruf.
Supaya
jenangnya mudah dan cepat dikenal orang, ia membuat inovasi
sendiri lain daripada orang lain, mulai dari nama sampai
kemasannya. Memilih nama Kenia berasal dari bahasa Jepang
yakni Ken yang artinya damai. “Sebenarnya saya ambil dari
nama anak saya Kitaro Keniochi, saya ambil Ken-nya saja yang
artinya damai tapi kalau Ken saja kurang mengena sehingga
saya tambah menjadi Kenia,” jelasnya.
Ma’ruf
mengatakan, biasanya nama-nama jenang yang lain diambilkan
dari nama bahasa Arab, maka dari itu ia mencari inovasi
sendiri agar kelihatan beda. Kemasan juga dipilih keranjang
anyaman karena mencerminkan tradisional sebab jenang makanan
tradisional, jadi kemasannya dipilih yang berbentuk
tradisional.
Biasanya
jenang-jenang pada umumnya kemasannya memakai kardus. “Kalau
kemasan anyamannya berasal dari Jepara, karena di Kudus
kerajinan anyam-
 |
|
kembali |
selanjutnya |
|
 |
|